Oleh: DR. Hasan Basri, MA
Barak1 news. Com –
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi persaingan, konsumtivisme, dan perlombaan mengejar materi, manusia sering kali merasa gelisah meskipun memiliki banyak harta. Kemajuan teknologi memang mempermudah kehidupan, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenangan batin. Dalam kondisi seperti ini, Islam menawarkan sebuah konsep yang mampu menyeimbangkan hubungan manusia dengan dunia, yaitu zuhud.
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, hidup dalam kemiskinan, atau mengasingkan diri dari kehidupan sosial. Zuhud adalah menjadikan dunia berada di tangan, bukan di hati. Seorang yang zuhud tetap bekerja, berkarya, dan berusaha memperoleh rezeki yang halal, tetapi ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya. Tujuan akhirnya adalah keridaan Allah Swt. dan kebahagiaan abadi di akhirat.
Makna Zuhud dalam Islam
Secara bahasa, zuhud berarti meninggalkan sesuatu karena menganggapnya tidak bernilai dibandingkan sesuatu yang lebih mulia. Dalam istilah para ulama, zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai orientasi utama kehidupan.
Allah mengingatkan:
«”Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
(QS. Al-Hadid [57]: 20)»
Ayat ini mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Kehidupan akhiratlah yang kekal dan menjadi tujuan akhir setiap mukmin.
Allah juga berfirman:
“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. Al-A’la [87]: 17)»
Rasulullah Saw. Mengajarkan Zuhud
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam kehidupan zuhud. Beliau memiliki kesempatan hidup mewah, tetapi memilih kesederhanaan.
Beliau bersabda:
“Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu.”
(HR. Ibnu Majah No. 4102, dinilai hasan oleh sebagian ulama)»
Hadis ini menjelaskan bahwa zuhud melahirkan dua kecintaan sekaligus: cinta Allah dan cinta manusia.
Dalam hadis lain Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. al-Bukhari No. 6416)»
Musafir tentu tidak membangun rumah permanen di tempat persinggahannya. Demikian pula seorang mukmin memandang dunia sebagai tempat singgah menuju kehidupan yang abadi.
Ciri-Ciri Orang yang Zuhud
Orang yang zuhud memiliki beberapa karakter utama:
1. Mengutamakan keridaan Allah daripada kenikmatan dunia.
2. Tidak sombong ketika memperoleh harta.
3. Tidak berputus asa ketika kehilangan sesuatu.
4. Gemar bersedekah dan membantu sesama.
5. Hidup sederhana meskipun memiliki kemampuan ekonomi.
6. Menjadikan akhirat sebagai orientasi utama kehidupan.
Allah menyatakan:
“…Agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu…”
(QS. Al-Hadid [57]: 23)»
Ayat ini menggambarkan keseimbangan hati seorang mukmin yang zuhud.
Zuhud Bukan Anti Kekayaan
Islam tidak melarang menjadi kaya. Banyak sahabat Nabi yang merupakan saudagar sukses, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka memiliki harta melimpah, tetapi hati mereka tidak diperbudak oleh kekayaan.
Karena itu, ukuran zuhud bukan sedikitnya harta, melainkan sedikitnya ketergantungan hati kepada harta. Harta hanyalah sarana untuk beribadah dan menebar manfaat.
Hikmah Zuhud
Orang yang membiasakan hidup zuhud akan memperoleh banyak manfaat:
– Hati menjadi lebih tenang.
– Terhindar dari sifat tamak.
– Mudah bersyukur.
– Tidak iri terhadap keberhasilan orang lain.
– Lebih dermawan dan peduli kepada sesama.
– Memiliki orientasi hidup yang jelas menuju akhirat.
Ketenangan seperti inilah yang menjadi modal untuk meraih kebahagiaan sejati.
Merambah Jalan Keabadian
Keabadian bukanlah sesuatu yang ditemukan di dunia, melainkan di akhirat. Zuhud merupakan jalan yang mengarahkan manusia kepada kehidupan yang kekal. Ketika seseorang mampu mengendalikan cintanya kepada dunia, maka ia akan lebih mudah mencintai Allah, memperbanyak amal saleh, dan mempersiapkan bekal menuju kehidupan abadi.
Zuhud bukan mengurangi semangat bekerja, tetapi meluruskan niat bekerja. Zuhud bukan memusuhi dunia, melainkan menggunakan dunia sebagai jembatan menuju surga. Dengan demikian, keberhasilan dunia menjadi sarana untuk meraih keberuntungan akhirat.
Penutup
Zuhud adalah seni mengelola hati. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari kedekatan kepada Allah Swt. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah kampung halaman yang sesungguhnya. Karena itu, marilah menjadikan dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan hidup.
Sebagaimana firman Allah:
“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash [28]: 77)»
Ayat ini menjadi penutup yang indah: Islam mengajarkan keseimbangan. Bekerjalah di dunia dengan sungguh-sungguh, tetapi tambatkan hati kepada Allah. Dengan zuhud, kita tidak sekadar menjalani kehidupan, tetapi sedang merambah jalan menuju keabadian. ( ***)
