DR. Hasan Basri, MA
Banda Aceh | Barak1News.com
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, umat Islam menghadapi berbagai tantangan. Perbedaan pandangan sering kali berubah menjadi perpecahan, media sosial dipenuhi ujaran kebencian, sementara sebagian orang memahami agama secara terlalu keras, sedangkan sebagian lainnya justru terlalu longgar. Dalam situasi seperti ini, Islam menawarkan sebuah konsep yang indah, yaitu wasathiyah atau moderasi.
Makna Wasathiyah
Wasathiyah bukan berarti mengurangi ajaran agama, bukan pula mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Wasathiyah adalah sikap adil, seimbang, proporsional, dan bijaksana dalam memahami serta mengamalkan ajaran Islam. Seorang Muslim yang moderat tetap teguh memegang prinsip-prinsip agama, tetapi juga mampu menghargai perbedaan, mengedepankan kasih sayang, dan menjunjung tinggi keadilan.
Allah Swt. berfirman:
«”Demikianlah Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang pertengahan (umat yang adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu.”
(QS. Al-Baqarah: 143)»
Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam dipilih menjadi ummatan wasathan, yaitu umat yang berada di jalan tengah. Jalan tengah bukan berarti tanpa pendirian, melainkan keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara ibadah dan kehidupan dunia, antara semangat dan kebijaksanaan.
Dalam ayat lain Allah berfirman:
«”Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu.”
(QS. An-Nisa’: 171)»
Pesan ini menunjukkan bahwa sikap berlebihan dalam beragama (ghuluw) bukanlah ajaran Islam. Beragama harus dilandasi ilmu, hikmah, dan kasih sayang.
Rasulullah saw. juga mengingatkan umatnya:
«”Jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.”
(HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)»
Dalam hadis lain beliau bersabda:
«”Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)»
Hadis ini menjadi pedoman bahwa dakwah Islam hendaknya dilakukan dengan kelembutan, kemudahan, dan penuh hikmah, bukan dengan kebencian ataupun pemaksaan.
Muslim Moderat
Menjadi Muslim moderat bukan berarti mengorbankan prinsip-prinsip agama. Seorang Muslim tetap menjaga akidahnya, melaksanakan salat, berpuasa, menunaikan zakat, dan menjauhi yang haram. Namun dalam kehidupan sosial, ia mengedepankan akhlak mulia, menghormati sesama, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog yang santun.
Wasathiyah juga mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Islam mendorong umatnya bekerja keras, menuntut ilmu, berinovasi, sekaligus tidak melupakan ibadah dan tanggung jawab kepada Allah. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi dijadikan ladang amal menuju kehidupan akhirat.
Di era digital, semangat wasathiyah semakin penting. Informasi yang begitu cepat sering kali memicu prasangka, fitnah, dan permusuhan. Seorang Muslim yang moderat tidak mudah terprovokasi. Ia melakukan tabayun, memverifikasi informasi, menjaga lisan dan jari-jarinya dari menyebarkan kebencian, serta mengutamakan persatuan daripada perpecahan.
Wasathiyah juga tampak dalam cara menyikapi perbedaan pendapat. Para ulama sejak dahulu berbeda dalam banyak persoalan fikih, tetapi mereka tetap saling menghormati dan tidak saling mencela. Perbedaan yang didasarkan pada dalil dan ijtihad adalah rahmat yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.
Pada akhirnya, wasathiyah adalah jalan terbaik untuk membangun kehidupan yang damai, harmonis, dan penuh keberkahan. Umat Islam dituntut menjadi teladan dalam kejujuran, keadilan, kasih sayang, serta penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan demikian, Islam benar-benar hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Menjadi Muslim moderat bukan berarti lemah dalam memegang prinsip, tetapi kuat dalam akhlak dan bijaksana dalam bersikap. Wasathiyah mengajarkan keseimbangan antara keteguhan iman dan kelembutan hati, antara semangat beribadah dan kepedulian sosial, antara membela kebenaran dan menjaga persaudaraan. Inilah wajah Islam yang diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ummatan wasathan yang mampu membawa kedamaian, persatuan, dan kemaslahatan bagi seluruh manusia. ( **)
