Karya: Salam Siregar.
Episode 6: Suka Duka Selama Belajar di Pesantren.
Minggu, 18 Oktober 2026.
Keberangkatan kami ke pesantren bukan hanya bahagia, tapi juga haru yang bercampur aduk. Tangis bahagia mengiringi langkah kami, seakan-akan kami hendak berangkat ke tanah suci atau ke medan juang.
Kami berangkat menaiki Bus Barumun Setia menuju Sibuhuan. Sementara pesantren tempat saya menuntut ilmu masih harus ditempuh dengan becak motor, karena jarak dari Pasar Sibuhuan ke Desa Siolip kurang lebih empat kilometer.
Sebagai santri baru yang pertama kali masuk pesantren, hati saya diliputi rasa was-was. Untuk pertama kalinya saya harus tinggal jauh dari orang tua, yang selama ini mengurus dan menjadi tempat saya bermanja. Kini saya harus hidup mandiri, mengurus diri sendiri, termasuk memasak dan mencuci pakaian.
Terus terang, di awal mondok saya benar-benar merasakan betapa susahnya hidup tanpa orang tua. Dari sanalah saya menyadari, betapa tidak pantasnya saya selama ini melawan kepada kedua orang tua.
Kehidupan di pesantren sangat disiplin. Saat subuh kami harus bangun dan mandi sebelum sholat Subuh berjamaah. Usai sholat, kami mengaji kitab hingga pukul enam pagi. Setelah itu pulang ke pondok untuk memasak nasi. Pukul setengah delapan lonceng berbunyi tanda masuk sekolah umum hingga waktu Zuhur. Selesai sholat Zuhur dan makan siang, kami melanjutkan sekolah Arab (kitab kuning) hingga Ashar. Usai Ashar, belajar lagi sampai pukul setengah enam sore.
Selesai sekolah sore, kami harus memasak sebelum Maghrib. Usai sholat Maghrib, kami kembali mengaji kitab hingga Isya, dan setelah Isya dilanjutkan belajar kitab sampai pukul sepuluh malam. Baru setelah itu kembali ke pondok dan belajar lagi sambil menunggu waktu tidur. Sungguh berat rutinitas yang harus kami jalani. Berbeda jauh ketika di kampung, kami bisa bermain bebas tanpa ada yang melarang, selama orang tua tidak mengetahui kesalahan kami.
Suka duka di pesantren justru menjadi motivasi untuk terus giat belajar, demi cita-cita dan demi keikhlasan orang tua yang menyekolahkan saya dengan harapan kelak saya bisa mendoakan mereka.
Hidup di pesantren memang penuh suka duka. Sukanya ketika belajar dan bercanda bersama kawan-kawan, gembira rasanya. Namun dukanya, ketika bekal sudah habis dan belum ada kiriman dari orang tua di kampung, kami harus memutar otak agar tetap bisa memasak di pondok.
Yang paling tak terlupakan adalah menjelang ujian semester. Terkadang saya harus menunda ujian karena belum ada kiriman dari orang tua. Bahkan saya harus mencari kerja sampingan atau pulang dulu ke kampung membantu ayah mencari uang.
Kehidupan di kampung kami saat itu memang berubah drastis setelah menjadi tanggung jawab Pemda Tapanuli Selatan usai lepas dari Departemen Transmigrasi. Jalan yang dulu bagus menjadi tak terawat. Jembatan yang dibangun di atas sungai pun tidak permanen, hanya terbuat dari kayu, dan akhirnya lapuk setelah lima tahun.
Akibat jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dan roda enam, hasil pertanian kami yang dulu menopang ekonomi keluarga menjadi tidak berharga. Hasil tani terkadang tidak laku ketika dibawa ke pasar. Begitu juga hasil ternak, jika terlambat dibawa, tidak ada yang membeli dan harus dibawa pulang kembali karena toke dari luar sudah kehabisan uang.
Namun dengan semangat yang tinggi dan doa orang tua, akhirnya pada tahun 1991 saya berhasil menyelesaikan sekolah Aliyah di Pondok Pesantren Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Sibuhuan dengan Nilai Ebtanas Murni yang sangat menggembirakan.
Bersambung ke Episode 7: Karena Tak Dapat Melanjutkan ke Perguruan Tinggi, Akhirnya Saya Merantau.
