Barak1news.com. | Aceh Singkil.
Eichhornia crassipes biasa disebut dengan Eceng gondok merupakan tanaman gulma yang mempunyai kemampuan menjadi spesies tanaman migran dengan pengaruh yang besar terhadap ekosistem perairan sehingga memerlukan dana yang besar untuk pengendaliannya.
Biasanya eceng gondok di perairan dapat mengganggu ekosistem perairan dengan cara menutupi permukaannya sehingga cahaya tidak dapat masuk ke dalam perairan yang kemudian akan mematikan makhluk hidup yang ada di dalamnya, menghambat aliran air, dan juga membuat perairan menjadi dangkal.
Eceng gondok sendiri mampu berkembang dengan cepat dan dapat mengambil unsur hara air.
Selain mampu menyerap unsur hara, eceng gondok juga mampu menyerap zat organik dan bahan kimia yang terkandung dalam perairan yang mengandung polutan.
Namun bagi Rumah Besar Komunitas Pegiat Alam dan Restorasi (Rubek Pasi) di Gosong Telaga Aceh Singkil menggunakan Eceng Gondok menjadi suatu inovasi pertanian dan menunjang ketahanan pangan nasional dan menyelamatkan lingkungan hidup.
Eceng gondok umumnya tumbuh di daerah yang aliran airnya tenang, misalnya rawa, danau, waduk, dan sungai dijadikan inovasi pertanian terapung atau dengan kata lain Ploting Pam oleh Komunitas Rubek Pasi.
Dengan membuat rakit diatas air, Komunitas mengangkat Eceng Gondok keatas rakit yang terbuat dari bambu, akan menjadikan lahan tempat bercocok tanam.
Kegiatan tersebut disampaikan oleh Baizar Zulmi ketua komunitas Rubek Pasir kepada media barak1news.com di dampingi Ulirohman Pohan dan Rafi Pratama anggota komunitas Rubek Pasi, Sabtu 14/12/2024 siang.
” Hari ini kita melanjutkan kegiatan inovasi pertanian terapung atau yang disebut Floating Fam,” kata Baizar zulmi.
Lanjutnya, kegiatan ini sudah kita mulai sejak bulan mei 2024 sampai April 2025 menggunakan dana hibah pundi hijau dari Non-Governmental Organization (NGO) salah satu LSM di Jakarta yang bergerak di bidang kemanusiaan
,’ katanya.
Tujuan kami untuk menciptakan inovasi ini melalui ekonomi hijau berbasis pertanian apung (Floating Farm) sebagai antisipasi perubahan iklim terhadap ketahanan pangan dangan memanfaatkan ama tanaman sungai yang di manfaatkan, eceng gondok,’ katanya.
Ia juga mengatakan, selain komunitas Rubek Pasi juga ada sepuluh komunitas lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia yang bekerja sama dengan NGO melakukan hal yang serupa,’ ungkap Baizatulmi.
Inovasi pertanian dengan memanfaatkan Eceng Gondok untuk menciptakan kompos sangat tepat di lakukan di daerah pemukiman Gosong Telaga karena daerah ini adalah daerah rawan banjir yang sewaktu waktu dapat merendam tanaman.
Namun dengan kita melakukan pertanian terapung, Insyaallah tanaman akan selamat dari rendaman banjir,’ imbuhnya.
Dengan kegiatan pertanian terapung memanfaatkan gulma Eceng Gondok, ia berharap kepada pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Perairan dan Perikanan serta dinas lainnya yang terkait di dalamnya agar dapat memperhatikan dan membantu kegiatan inovasi yang mereka.
” Melalui inovasi yang kami lakukan ini, kami berharap agar instansi terkait dapat membantu kami dalam program ketahanan pangan yang saat ini merupakan atensi dari presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto,’harapnya.
Rubek Pasi ini merupakan suatu komunitas yang mengajak kaula muda untuk melakukan kegiatan positif, khusus untuk menyelamatkan lingkungan demi masa depan anak bangsa di Ketua Baizar Zulmi, Sekretaris, Wawan Setiawan, sedangkan Bendahara Lia Nur afrija.
Penulis : NurruzalKahfy,Pohan
Redaksi ‘Barak-1News com.
