DR. H. Hasan Basri, MA
Banda Aceh | Barak1news.com
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 17)
Bulan Ramadhan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan turunnya Al-Qur’an—bulan ketika langit dan bumi dipertautkan melalui wahyu. Allah berfirman:
> “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil)” (QS. al-Baqarah [2]: 185).
Ayat ini menegaskan bahwa identitas utama Ramadhan adalah Al-Qur’an. Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan berdialog dengan Al-Qur’an—bukan hanya membacanya, tetapi menghayati, merenungi, dan membiarkannya menjawab kegelisahan hidup kita.
*Ramadhan dan Tradisi Tadarrus*
Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa setiap malam di bulan Ramadhan, Malaikat Jibril datang menemui Nabi ﷺ untuk mudarasah (saling membaca dan mengkaji) Al-Qur’an.
Hadis riwayat Sahih al-Bukhari menyebutkan:
> “Jibril menemui Nabi ﷺ setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu mereka saling mempelajari Al-Qur’an.”
Tradisi mudarasah ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah musim interaksi intens dengan wahyu. Nabi yang telah dijamin kesuciannya pun tetap mengulang dan mendalami Al-Qur’an setiap Ramadhan. Maka, bagaimana dengan kita?
*Dari Membaca Menuju Berdialog*
Allah menantang manusia untuk tidak sekadar membaca, tetapi merenungi:
> “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad [47]: 24).
Kata tadabbur berarti menelusuri makna hingga ke belakang dan ke dalam. Berdialog dengan Al-Qur’an berarti:
– Membaca dengan kesadaran menghadirkan hati, bukan sekadar suara.
– Merenungi pesan — bertanya: apa yang Allah ingin sampaikan kepadaku hari ini?
– Menghubungkan dengan realitas hidup — menjadikan ayat sebagai cermin diri.
– Mengamalkan pesan karena Al-Qur’an turun untuk dijalani, bukan hanya dilagukan.
*Al-Qur’an sebagai Sahabat Spiritual*
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.”
(HR. Sahih Muslim)
Hadis ini memberi harapan besar. Interaksi kita hari ini dengan Al-Qur’an bukan hanya berdampak pada ketenangan batin, tetapi juga pada keselamatan akhirat.
Bahkan dalam hadis lain disebutkan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia, dan yang terbata-bata tetap mendapat dua pahala (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa yang dinilai bukan ko kefasihan semata, tetapi kesungguhan hati.
*Ramadhan: Momentum Transformasi*
Ramadhan adalah bulan pembentukan karakter. Puasa melatih pengendalian diri, sedangkan Al-Qur’an memberi arah nilai. Ketika keduanya bersatu, lahirlah pribadi muttaqīn—sebagaimana tujuan puasa dalam QS. al-Baqarah [2]: 183.
Berdialog dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan berarti menjadikan wahyu sebagai penuntun perubahan: Dari lalai menjadi sadar. Dari keras menjadi lembut. Dari putus asa menjadi penuh harapan dan Dari egois menjadi empatik
*Praktik Sederhana Berdialog dengan Al-Qur’an*
Agar Ramadhan lebih bermakna, kita bisa memulai dengan langkah sederhana:
– Menetapkan waktu khusus tadabbur setelah Subuh atau Tarawih
– Membaca terjemah dan tafsir ringkas
– Menulis satu pelajaran harian dari satu ayat
– Mengamalkan minimal satu nilai setiap hari
Al-Qur’an bukanlah kitab yang jauh dari realitas; ia hadir untuk membimbing kehidupan sehari-hari. Setiap ayat adalah jawaban bagi jiwa yang mau bertanya.
Ramadhan akan berlalu, tetapi dialog dengan Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti. Jika Ramadhan adalah madrasah ruhani, maka Al-Qur’an adalah kurikulumnya.
Semoga kita tidak hanya menjadi pembaca Al-Qur’an, tetapi sahabatnya—yang akrab dengan pesannya, hidup dengan nilainya, dan kelak dikumpulkan bersama orang-orang yang dimuliakan karena wahyu.
Marhaban ya Ramadhan. Mari kita hidupkan malam dan siang kita dengan cahaya Al-Qur’an.
