
Oleh : Wan Ades Iskandar Nasution
Pengantar Kata
Aneka kesenian tradisional yang mewarnai setiap daerah seyogyanya mampu mengimbangi ritme kehidupan saat ini khususnya pada dinas yang bersangkutan. Ternyata kesenian tradisional perlahan tapi pasti akan mengalami kepunahan, sebab tidak mampu bangkit sebagaimana yang diharapkan. Bahkan kesenian daerah/lokal yang ada cenderung menurun dari segi kualitas dan kuantitasnya karena sudah tidak mampu lagi untuk membiayai operasional kesenian tersebut.
Pada tulisan singkat ini penulis hanya berusaha memaparkan tentang kesenian lokal yang dulunya sangat berkembang ditengah-tengah masyarakat khususnya di acara pernikahan dan acara lainnya, namun kini hampir punah tergerus zaman.
Bordah Yang hidup segan mati tak mau
Ibarat kata kiasan, “Hidup segan mati tak mau” , begitu pulalah Bordah di Bumi Santun Berkata Bijak Berkarya ini, di bilang sudah tak ada, tapi sayup-sayup masih pernah kita dengar kesenian itu muncul sekali-kali. Sebaliknya di bilang masih ada, tapi riak dan gerakannyapun senyap.
Padahal dulunya masyarakat Labuhanbatu Selatan merupakan masyarakat yang berbudaya. Sebab pada pernikahan saja harus melalui rangkaian adat terutama adat Melayu. Dalam prosesi pernikahan itu diantaranya adalah zikir bordah. Kesenian ini disebut zikir 12 karena dalam melantunkan zikir terdiri dari 12 nazam (bagian) yang akan di bawakan. Menurut Ramlan Harahap alias Ucok AK (65) salah seorang pemain kesenian bordah mengatakan, dalam prosesi adat dalam pernikahan puak melayu (sebab dari dulu adat yang dipakai adalah adat melayu) sudah tentu memakai keseniah bordah dan zikir 12 sebagai unkapan rasa syukur atas dilaksanakannya pernikahan tersebut. ”Kalau sudah berzikir, pengantin harus tetap duduk di pelaminan sampai menjelang subuh. Saat itu disamping senandong juga diselingi dengan pencak silat” ujar Ucok AK.
Namun saat ini kesenian bordah semakin sulit untuk berkermbang bahkan cenderung hampir punah. Jika hal ini tidak cepat dilestarikan oleh dinas yang bersangkutan, maka kesenian ini dapat di katakan akan segera punah.
Bordah dan Zikir 12 merupakan perpaduan seni musik, syair dan ritual keagamaan yang dipadu menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan. Seniman Bordah yang umumnya beranggotakan enam orang dalam setiap tampil di acara-acara pernikahanm. Dalam penampilannya semua pemain akan membacakan doa-doa dari buku zikir Al Barzanji sambil menabuh gendang, mereka melantunkan doa-doa tersebut layaknya nyanyian. Keindahan, ketinggian, dan kemerduan suara jadi ciri khas kesenian ini. Disamping gendang, para pemain juga ada yang memainkan bangsi (suling), violin (biola) dan kecer-kecer (tamborin), membuat suasana semakin meriah. Suasana penuh keakraban terlihat antara pemain, begitu juga dengan ahli bait. Umumnya kesenian khas Labusel ini dipertontonkan pada kegiatan Musabaqoh Tilawatil Quran, pesta kawinan, sunatan dan hajatan lainnya.
Selama ini masyarakat Labusel cukup mengenal kesenian Bordah, zikir dan senandong pantai barumun. Namun kini perpaduan seni tari dan tarik suara itu sudah di ujung tanduk menuju kepunahan. Padahal kesenian Bordah, zikir 12 dan senandong pantai Barumun merupakan budaya khas Labusel sejak dulunya.
Mereka secara perlahan mulai tersisih akibat perkembangan zaman, sebab Keberadaan kesenian ini kalah populer dari seni tradisional endeng-endeng dan organ tunggal yang memang jauh lebih modern. Apalagi, bordah yang mereka bawakan tak pernah mengalami modernisasi.
Peralatan Bordah sangat sederhana yaitu gendang yang di tabuh secara bersama-sama sambil melantunkan zikir-zikir atau senandong puji-pujian yang memuat kalaimat-kalimat zikir.

Gendang Rebana
Menurut Ucok AK yang kesehariannya sebagai penarik betor mengatakan bahwa kalau sudah semua pemain menyambung (saling kontak bathin) permainan menjadi seru, ditambah lagi dengan penampilan pencak silat. Sambil menabuh gendang dan zikir bersambut serta tiupan bangsi membuat penonton merinding seakan menimbulkan aura mistis pada prosesi pernikahan itu.
Selain gendang, para pemain bordah juga piawai memainkan bangsi (Suling) yang terbuat dari bambu yang sudah di lihat kekuatannya. Fungsi bangsi ini hanya untuk mengiringi lantunan zikir dan tabuhan gendang oleh pemain lain.

Bangsi/Suling
Dalam bordah juga ada satu pemain yang piawai memainkan violin (biola) sehingga suasana semakin mengasyikkan. Saking asyiknya mereka menikmati lantunan zikir, senandong penuh dengan syair-syair zikir, ditambah juga adanya Gerakan tarian yang menggambaran suasana suka-cita suatu pesta. Waktu mulai pukul 21.00 WIB hingga pukul 7.00 WIB pun tidak terasa.

Biola
“Tarian dalam kesenian bordah dibuat sebagai gambaran suka cita orang berpesta, jadi ahli baitpun tampak bahagia saat itu, di dalamnya juga terlihat kekentalan keagamaan, jadi sodap mata melihatnya jang….” kata Ucok AK
Kesenian Bordah tanpa regenerasi
Bordah bisa dikatakan sebagai suatu nyanyi-nyanyian yang berisi syair tentang pujian/ sholawat kepada Rasulullah Muhammad SAW. Awalnya Syair itu diciptakan olkeh Imam Al Busuri dari Mesir.
Pengarang qashidah Burdah ialah Al-Bushiri (610-695H/1213-1296 M). Nama lengkapnya Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushiri. Selain menulis Burdah, Al-Bushiri juga menulis beberapa qashidah lain. Di antaranya Al-Qashidah Al-Mudhariyah dan Al-Qashidah Al-Hamziyah.
Al-Bushiri adalah keturunan Berber yang lahir di Dallas, Maroko, dan dibesarkan di Bushir, Mesir. Ia murid sufi besar Imam Asy-Syadzili dan penerusnya yang bernama Abul Abbas Al-Mursi, tokoh Tarekat Syadziliyah. Di bidang fiqih, Al-Bushiri menganut Madzhab Syafi‘i, madzhab fiqih mayoritas di Mesir.
Kini secara bertahap terjadi perubahan-perubahan hingga burdah seakan menjadi ingatan belaka. Zaman telah berubah, kesenian daerah terus mengalami diskriminasi. Masyarakat lebih cendrung dengan musik yang simpel seperti organ tunggal.

Dok. Ucok AK saat di wawancarai
Kesenian yang dimiliki masyarakat Labusel dari dahulunya seharusnya dapat menjadi ciri khas atau identitas bagi daerah. Namun sampai saat ini belum ada gerakan nyata dari pemkab untuk menggali dan melestarikan kembali kesenian bordah di tengah-tengah masyarakat. Apalagi saat adanya tamu /petinggi yang datang ke Labusel, selayaknya mereka disuguhi dengan hiburan kesenian lokal yakni Bordah dan zikir yang di padu dengan kuliner jamuan saat tamu datang yakni kue Rasidah.
Menurut Ucok AK agar tetap bertahan, kelompok zikir mereka mengkombinasikan zikir dengan kesenian lain. Kelompok mereka kini hanya mempunyai empat anggota yang keseluruhannya laki-laki dan sudah paruh baya. Padahal lazimnya bordah dimainkan enam orang penzikir. Namun karena keterbatasan pemain, mereka terpaksa mempertahankan zikir tersebut meski dengan empat pemain. Salah satu upaya yang mereka lakukan agar kesenian ini tetap diminati yakni dengan memodifikasinya dan mengkombinasikannya dengan kesenian lain seperti cenggok-cenggok dan endeng-endeng. Disamping itu waktu ziki rnya pun di persingkat sampai jam 2.00 Wib, “Kesenian ini kini sudah langka dan kurang diminati masyarakat, tetapi kami berusaha melestarikannya,” katanya.
Namun untuk kelangsungan kesenian ini, mereka tak punya generasi. Meski bayaran untuk zikir bordah saat ini terbilang lumayan, namun remaja tak berminat untuk belajar, sebab untuk belajar zikir bordah cukup rumit dan memakan waktu dua tahun. Parahnya, SDM untuk kesenian ini pun sekarang sulit didapat. “Remaja sekarang kuat merokok, jadi kami tak bisa mendapatkan remaja yang suaranya benar-benar bagus,” Tutup Ucok.
Sekelumit pembahasan Bordah dengan salah seorang pemain bordah Kotapinang, menunjukkan ada kegundahan yang menyeruak didalam sanubarinya, bahwa Bordah tidak akan bisa berlanjut di bumi santu berkata Bijak Berkarya. Sebab Bordah di Labusel tidak punya generasi selanjutnya. Beliau telah berupaya semaksimalnya untuk tetap melestarikan kesenian Bordah ini di tengah-tengah masyarakat, namun sentuhan pemerintah Labusel belum terlihat nyata buat kesinambungan Bordah di masa mendatang.
Penulis berharap dengan untaian sedikit tulisan ini bisa menjadi penyemangat pemkab Labusel khususnya Dinas Porabudpar bidang Kebudayaan untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian lokal yang dapat dibanggakan di masa mendatang.
