Karya: Salam Siregar.
Episode 5: Tahun Pertama Hidup Di Transmigrasi.
Kamis (08/10/2026).
Nama Aliaga Ujung Batu IV itu kini bukan lagi sekadar nama di peta transmigrasi. Ia adalah tanah harapan kami. Tanah yang dijanjikan Tuhan setelah air mata yang terlalu lama menggenang.
Hari pertama kami menginjakkan kaki di transmigrasi itu, aku masih ingat betul. Tidak ada yang menyambut kami dengan sinis. Tidak ada yang mengejek baju kami yang lusuh. Di sini, semua orang sama. Semua adalah perantau. Semua hidup memulai dari nol.
Tetangga kami orang Jawa, sebelah lagi orang Batak, dan di ujung sana ada orang Sunda. Tapi di sini kami semua dipanggil satu nama: Saudara.
Ayah mendapat jatah dua hektar lahan. Lahan yang masih penuh dengan tunggul kayu dan batang-batang kayu besar. Tangan Ayah yang dulu hanya memegang cangkul sederhana, kini mulai mengolah harapan baru.
Dikala sore hari sepulang sekolah SD, sisa-sisa tenaga kami gunakan untuk membantu Ibu menanam sayuran dan ubi kayu serta membersihkan halaman rumah yang diberikan pemerintah seluas 1/4 hektar.
Setiap malam kami berangkat bersama-sama ke langgar untuk menunaikan sholat berjamaah sambil belajar mengaji. Secara kebetulan Ayah ditunjuk menjadi guru mengaji di langgar kami, RT 14, Lorong 1, sementara nomor rumah kami 140.
Alhamdulillah kehidupan kami pun mulai berubah. Yang dulunya bila kami mendapatkan ikan, ikan akan dijual, bila ada hewan ternak, ternak akan dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun di tempat kami yang sekarang, sungguh perubahan itu sangat terasa.
Bila awal bulan datang, jatah yang dijanjikan pemerintah datang. Mulai dari ikan asin, minyak goreng, beras, gula, garam dan kebutuhan lainnya dibagikan kepada kami warga transmigrasi.
“Semoga dengan adanya jatah pemerintah ini, panen kita nanti akan menjadi bekal kalian anak-anakku sekolah,” kata Ayah kepada kami saat itu.
Sungguh pantas jika Presiden Soeharto disebut Bapak Pembangunan. Program Repelita pertama, kedua, ketiga dan seterusnya membuahkan hasil, Indonesia menjadi swasembada pangan melalui program transmigrasi di Pulau Kalimantan dan Sumatera.
Melalui program ekstensifikasi, transmigrasi, dan cetak sawah baru di luar Pulau Jawa, pemerintah Orde Baru rata-rata mencetak sekitar 50.000 hingga 100.000 hektar sawah baru per tahun. Jika diakumulasikan selama 30 tahun (Repelita I-VI), total lahan pertanian baru yang dibuka diperkirakan berkisar antara 2 hingga 3 juta hektar.
Kami sebagai warga transmigrasi sangat terbantu dari segi ekonomi. Selain itu, kami juga berbaur dengan beberapa suku yang selama ini belum kami kenal, karena selama ini kami hanya mengetahui suku dan bahasa Mandailing. Namun setelah masuk transmigrasi, banyak bahasa yang kami ketahui selain bahasa Indonesia.
Pergaulan kami sungguh baik, sistem kekeluargaan sangat baik juga, apalagi persatuan kami sangat menjunjung tinggi jiwa gotong royong.
Enam bulan kami masuk transmigrasi, tanaman muda mulai memetik hasil, seperti jagung, kacang dan bahkan hewan ternak kami sudah mulai bisa dijual ke pasar untuk membeli kebutuhan lainnya.
Jika waktunya tiba, padi di ladang mulai menguning, kami sangat bangga dan riang gembira karena tak lama lagi akan panen padi. Kalau boleh dibilang, sejauh mata memandang daerah kami nampak padi menguning dari ujung sampai ke pangkal. Senyum indah nampak di raut wajah Ibu kala itu melihat lahan pertanian padi ladang yang tak lama lagi dipanen.
“Sungguh luar biasa nikmat Tuhan yang tak mungkin untuk kita dustakan anak-anakku, semua ini adalah merupakan rezeki yang Allah berikan kepada kita, kalian jangan sampai lupa untuk bersyukur kepada-Nya,” kata Ibu dikala pagi matahari menyinari tanaman padi yang mulai menguning dihembus angin semilir menimbulkan wangi bunga padi.
Bersambung ke Episode 6: Doa Orang Tua Terucap.
