L
Karya: Salam Siregar.
Episode 5: Doa Orang Tua Terucap.
Senin, 12/10/2026.
Takdir manusia memang tidak ada yang mampu mengaturnya, kecuali Sang Pencipta. Manusia hanya punya rencana, namun segala ketentuan pastilah dari Allah yang Maha Kuasa atas segala-galanya.
Tahun pertama kami menempati Desa Ujung Batu IV, rasanya sangat bahagia. Hasil panen padi, jagung, dan lainnya melimpah. Ternak ayam, kambing dan lainnya juga mulai berkembang. Di saat itu aku menginjakkan kaki di kelas VI SD, tentunya tak lama lagi akan tamat dan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Tingkat Pertama.
Tahun 1985, pada bulan Januari hingga Maret kami mulai memanen padi. Hasil panen tersebut sungguh di luar dugaan, rumah kami hampir semua menjadi tempat padi dari lahan darat yang kami punya.
“Alhamdulillah tahun ini kita sangat bersyukur atas panen padi yang kita dapat. Semoga dengan panen ini kelak dapat menjadi biaya untuk kalian nantinya sekolah,” kata Ayah di suatu pagi hari usai sarapan.
Alhamdulillah, di bulan Mei 1985 saya lulus dan mempunyai nilai yang sangat menggembirakan. Saat itu Ayah mengajak saya untuk mendaftar di Pondok Pesantren Syekh Dahlaniyah Siolip. Ayah sangat berharap nantinya saya dapat membimbing keluarga kepada jalan yang diridhoi Allah SWT.
Kebersamaan kami sangat kental di dalam bermasyarakat. Apa yang kami rasakan, tentunya para jiran tetangga juga ikut merasakan.
Kebiasaan di kampung kami, jika di awal masuk sekolah, setiap anak yang hendak sekolah keluar daerah, baik sekolah lanjutan tingkat pertama, tingkat atas dan bahkan yang hendak kuliah, kami akan dikumpulkan di suatu rumah, diberikan jamuan makan dan nasehat agar kelak kami tak menyia-nyiakan waktu belajar, dengan harapan orang tua kami bisa menjadi orang yang berguna bagi Nusa, Bangsa dan Agama.
Malam jelang keberangkatan pertama aku masuk Pesantren, malam itu kami dikumpulkan di rumah Wawak Sutan Sapala Raja Siregar untuk dijamu makan bersama dan diberikan nasehat agar kami nantinya betah dan tekun dalam belajar. Malam itu aku masih ingat ketika Ayah menyampaikan nasehat dan harapan kepadaku dengan meneteskan air mata.
“Saya bersama ibumu berharap, jikalau keberangkatanmu untuk menuntut ilmu ini, semoga kau dapat menjadi orang yang berguna. Setidaknya kau dapat menjadi imam dalam keluarga kita,” kata Ayah dengan tetesan air mata, berharap agar aku tekun belajar.
Selain itu Ayah juga mengatakan, “Kami tak berharap banyak kepadamu wahai anakku. Kami hanya bermohon dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Jika kau berhasil, bukan mengharapkan agar kau menjadi Jaksa, Hakim, atau pejabat lainnya yang paling utama. Namun kami berdoa, nantinya di akhir hayat kami kau dapat membisikkan kalimat tauhid ke telinga kami menjelang ajal tiba. Dan harapan kami, kau akan mengurus fardhu kifayah kami, mulai dari memandikan, mengkafani, menshalatkan dan menguburkan sebagai anak yang mendoakan orang tuanya (anak yang sholeh),” kata Ayah dengan derai air mata yang tulus dan ikhlas untuk memasukkan ku ke sekolah agama.
Ayah juga mengatakan, “Kami juga tahu bahwa tak pantas untuk menyekolahkan kau ke Pesantren dengan keadaan ekonomi kita seperti ini. Namun saya percaya bahwa selagi kau mau dan kita berusaha, niscaya Allah akan mengabulkan doa dan harapan kami,” tambahnya.
“Sebagai orang tua yang hidup pas-pasan, nantinya tak akan mungkin dapat memberikan harta warisan kepadamu. Namun kami tetap akan menitipkan ilmu agama kepadamu agar kelak kau selamat dunia dan akhirat,” tutupnya.
Malam itu sungguh sangat mengharukan bagiku apa yang disampaikan Ayah. Tak terasa kain yang aku pakai tak disadari telah basah oleh air mata yang mengucur.
Di saat itu aku menanamkan di dalam hati, ucapan Ayah kelak dapat aku tunaikan. Dan keesokan harinya kami diberangkatkan bersama-sama dengan menaiki Bus Barumun Setia. Saat keberangkatan kami dihantarkan oleh keluarga dan tetangga, bak pemberangkatan Haji ataupun Umroh, ataupun hendak memberangkatkan pejuang fisabilillah yang hendak bertempur ke medan perang, disertai dengan tangis haru dan kesedihan.
Bersambung ke Episode 6: Suka Duka Selama Belajar di Pesantren.
