Doa Orang Tua Terkabul
Diangkat Dari Kisah Nyata.
Karya: Salam Siregar.
MIGRASI KE-2 : SOSA
PADI DILANDA HAMA, TIKUS DAN BANJIR TIAP TAHUN
Di tahun 78, hampir semua petani di daerah pinggiran sungai Batang Toru dilanda hama wereng, tikus dan banjir hingga membuat petani hampir semua saat itu gagal panen. Impian yang dulu pindah dari Lubuk Torop untuk merubah hidup kini mulai sirna.
Jika hal ini terus-menerus terjadi, tentunya sebagai orang tua yang menginginkan anak cucunya nanti untuk maju, tentu akan menjadi suatu pengganjal angan-angan. Masyarakat tak dapat berbuat banyak, karena petani pada saat itu belum mendapatkan pembinaan dari dinas pertanian seperti sekarang ini.
Pada suatu malam, keluarga dari Oppung Baginda Lelo Siregar berkumpul untuk mencari solusi mengatasi masa-masa sulit yang dilalui, namun tak ada titik terang terkecuali harus mencari tempat pindah yang lebih baik agar anak-anak dapat untuk disekolahkan.
“Saya berpendapat agar kita mencari tempat pindah lagi, karena daerah ini sudah sulit untuk kita pertahankan,” kata Tongku Nauli kepada Ayahandanya dan saudara-saudaranya.
Dari hasil musyawarah keluarga tersebut, dua orang diutus untuk berangkat ke Sosa, tepatnya Pasar Ujung Batu untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Di antara yang berangkat adalah Sutan Sapala Raja Siregar, Tongku Nauli Siregar dan Ibrahim Harahap sebagai keponakan (Bere).
Pada tahun 80, Keluarga keturunan Baginda Lelo berangkat ke Sosa semua dengan rasa haru yang mendalam meninggalkan semua karya tani mereka yang selama hampir delapan tahun membangunnya.
Perpindahan tersebut terbagi menjadi dua gelombang, pertama ada empat keluarga, yaitu: Baginda Lelo Siregar, Tongku Nauli Siregar, Jurittan (Ibunda Barahim Harahap) dan Sutan Sapala Raja Siregar.
Sedangkan Gelombang kedua terdiri dari keluarga Mangaraja Alam Barita Siregar, Arsyad Siregar dan tetangga lainnya.
Bersambung Bagian 3: Tiap Hari Menyeberang Sungai Sosa Untuk Sekolah.
