Barak1news.com. |Jakarta.
Ironinya hal ini sudah di bahas oleh banyak pakar Ekonomi Indonesia bahwa mengikuti Pasar Bebas Dunia Indonesia akan mengalami guncangan dan kebangkrutan secara meluas pada Raksasa Industri Indonesia.
Beberapa kali pergantian pimpinan Presiden RI dengan pemerintahannya, tidak ada satupun yang berani mencabut ijin Indonesia ikut Pasar Bebas Dunia, padahal sangat jelas Negara Indonesia tidak di untungkan.
Ketika barang barang Industri China membanjiri seluruh pasar kecil dan pasar besar nasional yang memberikan dampak luar biasa pada seluruh industri nasional.
Kementrian keuangan dan Dirjen Pajak tidak mau mengenakan pajak khusus bagi barang barang China yang masuk besar besaran ke semua kota dan kabupaten dengan dukungan perdagangan via online atau memilik gudang gudang sendiri serta dibebaskan membanjiri semua pasar.
Yang menjadi pertanyaan adalah:
Siapakah yang bertanggung jawab dengan Bangkrutnya industri nasional
Terkait Bangkrutnya industri nasional di sampaikan PROF.Dr.KH Sutan Nasomal SH,MH Kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah di nilai tidak PRO RAKYAT karena berpihak kepada importir china
Kemudian, Pasar Belanja Online telah menyedot daya beli masyarakat Indonesia dengan nilai 1 Milyar USA, masyarakat membelanjakan uangnya di pasar online karena memiliki ragam tawaran yang di bandrol dengan harga murah, bahkan lebih murah dari harga di pabrik pabrik yang ada di wilayah Indonesia,’ katanya.
Artinya pemilik pabrik atau pengusaha industri nasional kehilangan daya beli masyarakat. Inilah awal BENCANA KEBANGKRUTAN PABRIK INDUSTRI,’ paparnya.
Kepada media hal ini disampaikan Oleh PROF.Dr.KH Sutan Nasomal SH,MH agar para elit di pemerintahan bisa membuat kebijakan guna menolong industri nasional serta pabrik pabrik yang belum bangkrut.
Pemerintah harus punya Kamar Dagang Online Nasional yang bisa menentukan TEX atau pajak bagi semua jenis perdagangan di online dan perangkat hukumnya. Payung hukumnya harus kuat sehingga rakyat dan negara tidak akan dirugikan,’ ungkap Sutan Nasomal.
Harus jelas pedagang online dimana alamatnya perusahaannya dan perizinannya. Jangan ada lagi pedagang online yang tidak terdaftar dan tidak bisa di lacak bila telah melakukan perbuatan melanggar hukum atau melakukan penipuan dalam perdagangan online. Salah satu hal yang paling penting bahwa pembeli memiliki hak meneliti barang yang di beli dan di ijinkan menolak bila tidak sesuai,’ paparnya.
Perdagangan Online rentan penipuan yang luar biasa yang telah di evaluasi beberapa tahun ini, masyarakat yang terjebak dalam penipuan karena belanja online tidaklah sedikit,’ kata Sutan Nasomal.
Perdagangan pasar bebas dunia saat ini memberikan masalah yang luar biasa. Kebangkrutan para industri nasional meninggalkan jejak luka mendalam pada rakyat Indonesia karena PHK besar besaran terjadi. Pengangguran tidak mungkin mudah mencari pekerjaan kembali apalagi dengan jumlah di atas 80.000 korban PHK, belum lagi di masa PANDEMI COVID telah terjadi PHK yang cukup banyak saat itu,’ tambah Sutan Nasomal.
PROF.Dr.KH Sutan Nasomal SH,MH menghimbau kepada Presiden Indonesia Jendral (Pur TNI) Haji Prabowo Subiyanto agar secepat mungkin menyelamatkan ekonomi Indonesia dari pada semua hancur tatanan industri nasional, dampak dari perdagangan bebas dan perdagangan online, lebih baik Presiden memutuskan Indonesia keluar dari perdagangan bebas dan perdagangan online.
Apalagi payung hukumnya perdagangan bebas dan perdagangan online saat ini tidak jelas, hendaknya negara harus hadir untuk Pro Kepada rakyat dan tidak memihak bagi kepentingan importir luar negri.
Sangat jelas Indonesia dimiskinkan oleh sistem perdagangan bebas dan perdagangan online. Peluang rakyat bisa mengembangkan kemampuan ekonomi UMKM selama ini tercabik cabik oleh serbuan barang barang importir dan ribuan UMKM hancur terdampak.
Semakin lama bila di biarkan maka Indonesia kehilangan kekuatan ekonomi, bahkan ekonomi bisa dikuasai negara asing. Yang pasti sangat mengalami kerugian adalah Masyarakat dan Negara Indonesia,’ pungkas Prof.Dr.Sutan Nasomal SH.MH
Penulis; Nurrizal Kahfy Pohan.
Narasumber : PROF DR KH SUTAN NASOMAL SH,MH
Barak1news.com 3/3/2025.-
