Oleh : DR. Hasan Basri, MA
Banda Aceh | Barak1News.com.
Identitas Buku:
Judul: Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam
Penulis: Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas
Penerbit: Atmosphere Publishing House
Terbit: April 2025
Tebal: sekitar 346 halaman
ISBN: 978-623-89676-5-0
Buku ini bukan ditulis oleh Prabowo Subianto, melainkan merupakan karya kolaboratif yang menghadirkan berbagai tulisan dan perspektif mengenai kehidupan keagamaan, spiritualitas, karakter, dan kepemimpinan Prabowo. Buku ini diluncurkan pada Rakornas BAZNAS 2025 dan sejak awal memang dimaksudkan untuk membaca sosok Prabowo dari perspektif nilai-nilai Islam.
1. Membaca Islam melalui Sosok Pemimpin
Judul Islam ala Prabowo merupakan bagian paling menarik sekaligus paling problematis dari buku ini. Secara literal, judul tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa buku sedang menawarkan “Islam versi Prabowo”. Padahal, isi buku tidak bermaksud menciptakan mazhab atau bentuk Islam baru.
Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai upaya membaca bagaimana nilai-nilai Islam dipahami tercermin dalam kehidupan dan kepemimpinan Prabowo Subianto.
Dengan demikian, buku ini sebenarnya tidak sedang menjawab pertanyaan: “Apa ajaran Islam menurut Prabowo?” Melainkan lebih dekat kepada pertanyaan: “Bagaimana nilai-nilai Islam tampak dalam sikap, karakter, perjuangan, dan kepemimpinan Prabowo?”
Perbedaan ini penting agar buku tidak dibaca secara keliru.
2. Islam sebagai Akhlak dan Laku Kepemimpinan
Salah satu gagasan utama yang dapat ditangkap dari buku ini adalah bahwa keberislaman tidak hanya ditampilkan melalui simbol-simbol keagamaan, tetapi juga melalui akhlak, tanggung jawab, pengabdian, keadilan, kepedulian terhadap rakyat, dan perjuangan mewujudkan kesejahteraan.
Perspektif semacam ini sebenarnya memiliki akar yang kuat dalam tradisi pemikiran Islam. Islam tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengenai hubungan manusia dengan sesama.
Karena itu, kepemimpinan dapat dipandang sebagai bentuk amanah.
Al-Qur’an menegaskan:
«”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”»
(QS. al-Nisa’: 58)
Dalam perspektif tersebut, buku ini mencoba memperlihatkan bahwa ukuran keberislaman seorang pemimpin tidak berhenti pada ekspresi ritual, tetapi juga dapat dilihat dari bagaimana ia menjalankan amanah kekuasaan.
3. Tiga Tema Besar Buku
Secara garis besar, buku ini dapat dibaca melalui tiga tema utama.
Pertama: Islam, Perdamaian, dan Keadilan
Bagian ini menempatkan Islam sebagai sumber nilai bagi kehidupan kebangsaan dan hubungan sosial.
Islam dipahami bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi juga sebagai kekuatan moral yang mendorong perdamaian, keadilan, persatuan, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Perspektif tersebut relevan dengan konsep rahmatan lil-‘alamin, bahwa kehadiran Islam idealnya memberikan rahmat dan kemaslahatan bagi manusia.
Kedua: Spiritualitas Prabowo Subianto
Bagian ini merupakan salah satu bagian paling menarik karena mencoba melihat Prabowo bukan hanya sebagai tokoh militer dan politik, tetapi sebagai seorang Muslim.
Buku ini berusaha menunjukkan dimensi spiritual dalam kehidupan Prabowo dan bagaimana pengalaman keagamaan tersebut dikaitkan dengan karakter serta sikap kepemimpinannya.
Di sini pembaca diajak memahami bahwa spiritualitas seorang pemimpin tidak selalu harus tampil dalam bentuk retorika keagamaan.
Spiritualitas dapat pula tercermin dalam kedisiplinan, tanggung jawab, keteguhan, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan mengabdi kepada masyarakat.
Ketiga: Perjuangan untuk Kesejahteraan Rakyat
Tema ketiga membawa pembahasan pada hubungan antara agama dan kesejahteraan sosial.
Dalam perspektif Islam, kesejahteraan rakyat bukan semata-mata persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut keadilan, perlindungan kelompok lemah, distribusi sumber daya, pendidikan, kesehatan, dan martabat manusia.
Karena itu, kepemimpinan yang berorientasi pada kesejahteraan dapat dibaca sebagai salah satu bentuk aktualisasi nilai-nilai keislaman dalam ruang publik.
4. Kekuatan Buku
Buku ini memiliki beberapa kekuatan.
Pertama, menawarkan perspektif yang berbeda mengenai Prabowo.
Prabowo selama ini lebih sering dibahas sebagai mantan perwira militer, politisi, ketua partai, atau presiden. Buku ini mencoba menghadirkan dimensi lain, yaitu Prabowo sebagai seorang Muslim.
Kedua, mempertemukan agama dan kepemimpinan.
Buku ini menarik karena tidak berhenti pada biografi personal, tetapi menghubungkan nilai keagamaan dengan persoalan kepemimpinan dan kehidupan kebangsaan.
Ketiga, menghadirkan banyak perspektif.
Buku ini melibatkan sejumlah tokoh agama, akademisi, politisi, diplomat, dan tokoh masyarakat. Karena itu, pembaca memperoleh beragam sudut pandang tentang Prabowo.
Keempat, menggeser pembicaraan tentang Islam dari simbol menuju substansi.
Salah satu perspektif yang muncul dalam materi buku adalah bahwa keislaman dapat dilihat dari substansi tindakan, bukan semata-mata dari simbol lahiriah.
5. Catatan Kritis
Meskipun menarik, buku ini tetap perlu dibaca secara kritis.
Pertanyaan akademik yang paling penting adalah:
Apakah buku ini merupakan kajian tentang pemikiran keislaman Prabowo, atau konstruksi narasi keislaman tentang Prabowo?
Keduanya berbeda.
Jika buku ini hendak menjadi kajian pemikiran Islam Prabowo, pembaca tentu berharap mendapatkan uraian yang lebih sistematis mengenai pandangan Prabowo tentang Islam, negara, demokrasi, keadilan sosial, hubungan agama dan kekuasaan, serta sumber-sumber pemikiran yang membentuk pandangan keagamaannya.
Namun, buku ini tampaknya lebih kuat sebagai biografi spiritual dan interpretasi terhadap karakter serta kepemimpinan Prabowo daripada sebagai kajian akademik mengenai pemikiran Islam Prabowo. Kritik semacam ini juga muncul dalam sejumlah ulasan terhadap buku tersebut.
Catatan kritis kedua berkaitan dengan kemungkinan bias afirmatif. Karena sejumlah kontributor memiliki hubungan atau kedekatan dengan lingkungan politik dan pemerintahan, pembaca perlu membedakan antara fakta biografis, kesaksian personal, interpretasi keagamaan, dan penilaian politik.
Dengan kata lain, tidak semua penilaian positif terhadap Prabowo dalam buku dapat diperlakukan sebagai kesimpulan akademik yang objektif.
6. Persoalan Judul: “Islam ala Prabowo”
Dari perspektif studi agama, judul buku ini justru membuka diskusi yang sangat menarik.
Islam pada dasarnya tidak dapat dimiliki atau didefinisikan oleh seorang tokoh politik. Islam memiliki sumber normatif berupa Al-Qur’an dan Sunnah serta tradisi intelektual yang sangat panjang.
Karena itu, istilah “Islam ala Prabowo” sebaiknya dipahami sebagai kategori interpretatif, bukan kategori teologis.
Artinya, yang dibicarakan bukan “Islam baru bernama Islam ala Prabowo”, melainkan cara tertentu dalam membaca hubungan antara seorang Muslim bernama Prabowo dengan nilai-nilai Islam dalam kehidupan publiknya.
Pemahaman ini penting agar buku tidak terjebak pada persoalan label.
7. Relevansi bagi Studi Islam
Bagi mahasiswa Studi Agama-Agama, Pendidikan Agama Islam, Politik Islam, atau Studi Al-Qur’an dan Hadis, buku ini sebenarnya dapat dijadikan bahan kajian yang menarik.
Buku ini membuka beberapa pertanyaan akademik:
1. Bagaimana agama digunakan untuk membaca karakter seorang pemimpin?
2. Bagaimana hubungan antara Islam dan kekuasaan politik?
3. Apakah religiusitas seorang pemimpin dapat diukur melalui tindakan politiknya?
4. Bagaimana agama menjadi sumber etika kepemimpinan?
5. Apakah penggunaan simbol Islam dalam politik selalu identik dengan religiusitas?
6. Bagaimana membedakan antara religiusitas substantif dan religiusitas simbolik?
7. Sejauh mana narasi keagamaan dapat menjadi bagian dari legitimasi politik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadikan buku ini lebih menarik jika dibaca bukan hanya sebagai buku tentang Prabowo, tetapi sebagai teks sosial-politik tentang hubungan agama, kekuasaan, dan kepemimpinan di Indonesia.
8. Penilaian Akhir
Islam ala Prabowo merupakan buku yang menarik karena berusaha menghadirkan sisi lain dari seorang tokoh politik nasional. Buku ini tidak menawarkan “Islam baru” dan bukan pula karya yang secara sistematis merumuskan pemikiran keislaman Prabowo. Lebih tepat, buku ini merupakan upaya membaca spiritualitas, karakter, tindakan, dan kepemimpinan Prabowo melalui perspektif nilai-nilai Islam.
Kekuatan utamanya terletak pada keberaniannya mempertemukan tiga wilayah yang sering dipisahkan: agama, kepemimpinan, dan kesejahteraan rakyat.
Namun, pembaca akademik tetap perlu menjaga jarak kritis. Narasi positif mengenai seorang pemimpin tidak otomatis menjadi fakta objektif. Setiap klaim tentang religiusitas, spiritualitas, dan keadilan seorang tokoh perlu diuji melalui data, tindakan nyata, kebijakan, dan sumber-sumber yang independen.
Pada akhirnya, buku ini lebih menarik jika dibaca bukan sebagai upaya menentukan “Islam versi siapa”, tetapi sebagai bahan untuk mendiskusikan bagaimana nilai-nilai Islam diterjemahkan ke dalam praktik kepemimpinan politik di Indonesia.
Dengan demikian, pertanyaan terpenting setelah membaca buku ini bukanlah:
“Apakah ada Islam ala Prabowo?”
melainkan:
“Sejauh mana kekuasaan dapat menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai Islam berupa amanah, keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bagi rakyat?”
Pertanyaan kedua inilah yang menjadikan buku tersebut relevan untuk dibaca secara akademik dan kritis.Secara akademik, menurut saya buku ini sangat menarik dijadikan objek kajian Studi Agama-Agama atau Studi Islam, terutama untuk tema “Agama, Kekuasaan, dan Politik Identitas”. Yang menarik justru bukan sekadar isi bukunya, tetapi bagaimana Islam dikonstruksi untuk membaca dan memberi makna religius terhadap figur seorang pemimpin politik. *HB*(***)
