Barak1news.com|Bener Meriah-
Dalam rangka memperingati Hari Bumi, pemuda Kampung Gunung Teritit menginisiasi pelatihan bertajuk *Budidaya Kopi Arabika Responsif Perubahan Iklim* pada Minggu, 27 April 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta kapasitas generasi muda dalam menerapkan praktik pertanian berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.
Pelatihan tersebut menghadirkan Bapak Salman, Master Trainer SCOPI Rootcapital dan Nespresso, dan Bpk Armada Reje Kampung Waq Pondok Sayur. Sebanyak 80 orang pemuda dan pemudi dari Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini. Materi yang disampaikan difokuskan pada penguatan keterampilan teknis dan strategi adaptasi budidaya kopi Arabika dalam menghadapi perubahan iklim global.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, antara lain Pemerintah Desa Kampung Gunung Teritit selaku reje Rawakim Al Atas, S.Pd.i., organisasi kepemudaan Gusni Pratama, DOR Agri Tech Abdurrahman,S.Tr.P., Koperasi Redelong Bukit Jaya Julfan Ariga, dan Kelompok Tani Youtha Agri Tama Hairunnas. Sinergi antarlembaga tersebut mencerminkan komitmen kuat untuk membangun pertanian kopi yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.
Materi pelatihan mencakup mitigasi perubahan iklim, pembuatan Biocard, formulasi larutan Jadam sulfur organik, produksi eco enzym, pengolahan asam humat, serta teknik pemangkasan tanaman kopi. Seluruh materi ini disusun linier dengan program prioritas Bupati Bener Meriah, Bapak Ir. H. Tagore Abubakar, yang tengah berupaya memecahkan persoalan serangan hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan jamur akar guna meningkatkan produktivitas dan kualitas kopi Arabika Gayo.
Ketua Pemuda (Bebujang) Kampung Gunung Teritit, Gusni Pratama, dalam sambutannya menyampaikan harapannya agar kegiatan pelatihan ini dapat dilakukan secara berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya peningkatan persepsi, minat, motivasi, serta pengetahuan petani muda dalam menghadapi dinamika sektor pertanian melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Lebih lanjut, Gusni Pratama mengungkapkan bahwa pelatihan ini dirancang sebagai *pilot project* yang diharapkan dapat diterapkan di desa-desa lain. Dengan adanya replikasi program ini, diharapkan tercipta ekosistem pertanian kopi yang lebih resilien terhadap ancaman perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perubahan minimal memulai dari kebun masing-masing peserta. Penerapan praktik budidaya kopi Arabika yang lebih adaptif, ramah lingkungan, dan produktif diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan hidup, sejalan dengan semangat Hari Bumi yang diperingati secara global.
(SZ)
