Oleh : DR.Hasan Basri,M.A
Banda Aceh | Barak1News.com
Di tengah kehidupan modern yang penuh persaingan, banyak orang mengukur kebahagiaan dari banyaknya harta, tingginya jabatan, atau kemewahan gaya hidup. Akibatnya, tidak sedikit yang merasa gelisah, iri hati, bahkan rela menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisi duniawi. Fenomena ini semakin terasa ketika kita menyaksikan kasus-kasus korupsi yang akhir-akhir ini makin marak diberitakan. Banyak pejabat, pengusaha, atau pihak yang diberi amanah justru tergoda memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak halal. Semua itu berawal dari hati yang tidak pernah merasa cukup. Islam menawarkan sebuah solusi yang menenangkan hati, yaitu qana’ah, yakni sikap merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan disertai tetap berikhtiar secara maksimal.
Qana’ah bukan berarti malas bekerja atau menolak kemajuan. Sebaliknya, qana’ah adalah kemampuan mengendalikan keinginan sehingga seseorang tidak diperbudak oleh nafsu dunia. Orang yang qana’ah akan bekerja keras, tetapi hatinya tetap tenang karena yakin bahwa Allah telah menetapkan rezeki terbaik baginya. Ia tidak tergoda untuk mengambil hak orang lain, tidak mudah tergiur oleh jabatan, dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Dalam konteks sekarang, sikap qana’ah sangat penting agar seseorang tidak terjerumus pada korupsi, suap, manipulasi, atau penyalahgunaan wewenang demi mengejar keuntungan sesaat.
Allah SWT berfirman:
«”Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Taha [20]: 131)»
Ayat ini mengajarkan agar seorang mukmin tidak sibuk membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Fokuslah pada nikmat yang telah Allah anugerahkan dan syukurilah setiap karunia-Nya. Ketika seseorang terus memandang kemewahan orang lain, ia mudah merasa kurang, lalu terdorong mengejar dunia dengan cara apa pun. Dari sinilah sering muncul sifat tamak yang menjadi pintu masuk berbagai penyimpangan, termasuk korupsi yang merugikan banyak orang.
Allah juga berfirman:
«”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim [14]: 7)»
Qana’ah selalu berjalan beriringan dengan syukur. Semakin seseorang bersyukur, semakin lapang dadanya menerima ketentuan Allah. Orang yang bersyukur tidak akan mudah mengeluh, apalagi merasa harus menempuh jalan haram untuk mendapatkan lebih banyak. Ia yakin bahwa keberkahan jauh lebih berharga daripada sekadar banyaknya harta.
Rasulullah bersabda:
«”Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)»
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kebahagiaan bukan terletak pada jumlah harta yang dimiliki, tetapi pada ketenangan hati. Banyak orang bergelimang kekayaan namun hidupnya dipenuhi kecemasan, sementara orang yang sederhana justru merasakan ketenteraman karena memiliki hati yang qana’ah. Bahkan dalam kehidupan sosial, orang yang kaya jiwa akan lebih mudah jujur, amanah, dan tidak tergoda untuk menumpuk harta dengan cara yang batil.
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda:
«”Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)»
Hadis tersebut menunjukkan bahwa keberuntungan sejati bukanlah memiliki harta melimpah, tetapi memperoleh kecukupan dan hati yang selalu merasa cukup. Orang yang demikian tidak akan mudah silau oleh jabatan, tidak rakus terhadap fasilitas, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri. Ia sadar bahwa amanah adalah tanggung jawab besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Ciri-Ciri Orang yang Qana’ah
1. Bersyukur atas setiap nikmat yang diterima.
2. Tidak iri terhadap keberhasilan orang lain.
3. Hidup sederhana meskipun memiliki kemampuan lebih.
4. Gemar berbagi kepada sesama.
5. Tetap berusaha secara maksimal dan bertawakal kepada Allah.
6. Menjaga diri dari sifat tamak, suap, dan perbuatan yang merugikan orang lain.
7. Menggunakan harta dan jabatan sebagai sarana kebaikan, bukan untuk kesombongan.
Manfaat Hidup dengan Qana’ah
– Hati menjadi tenang dan damai.
– Terhindar dari sifat tamak dan rakus.
– Mempererat hubungan sosial karena tidak dipenuhi rasa iri.
– Menumbuhkan semangat bersyukur.
– Mendatangkan keberkahan dalam kehidupan.
– Menjauhkan diri dari perilaku koruptif dan penyalahgunaan amanah.
– Membentuk pribadi yang jujur, sederhana, dan bertanggung jawab.
Penutup
Qana’ah adalah kekayaan yang tidak dapat dibeli dengan uang. Di tengah budaya konsumtif, persaingan material yang semakin kuat, dan maraknya kasus korupsi yang menunjukkan betapa berbahayanya keserakahan, seorang Muslim perlu menjadikan qana’ah sebagai prinsip hidup. Dengan qana’ah, kita tetap berikhtiar meraih kehidupan yang lebih baik, namun tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Hati yang qana’ah akan selalu dipenuhi rasa syukur, ketenangan, dan keyakinan bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur, hidup sederhana, menjaga amanah, dan memiliki hati yang qana’ah. Aamiin. ( ***)
