Barak1news.com
Oleh : DR.H.Hasan Basri, MA
“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (untuk mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu (wahai Muhammad) dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”
(QS. Al-Kausar 108: Ayat 1-3)
Setiap datangnya bulan Dzulhijjah, umat Islam di berbagai penjuru dunia menyambut ibadah qurban dengan penuh suka cita. Suara takbir menggema, masjid dan lapangan dipenuhi jamaah, sementara hewan-hewan qurban dipersiapkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt. Namun, qurban bukan sekadar menyembelih hewan. Di baliknya terdapat makna spiritual yang mendalam: refleksi iman, ketundukan, serta rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya.
Makna Qurban dalam Islam
Secara bahasa, qurban berasal dari kata qaruba yang berarti “dekat.” Ibadah qurban menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah melalui pengorbanan harta dan keikhlasan hati. Qurban juga mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas kecintaan terhadap harta benda dan kepentingan duniawi.
Peristiwa qurban paling agung dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau diperintahkan Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s. Perintah tersebut diterima dengan penuh ketaatan meskipun sangat berat secara emosional. Kisah ini menunjukkan bahwa iman sejati lahir dari kepatuhan total kepada Allah.
Allah Swt. berfirman:
> “Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’” — QS. Ash-Shaffat: 102
Ayat ini menggambarkan kekuatan iman dan ketundukan luar biasa dari Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Karena keikhlasan keduanya, Allah mengganti Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Qurban sebagai Refleksi Iman
Iman tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan melalui pengorbanan dan ketaatan. Orang yang berqurban sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa ia rela mengeluarkan sebagian hartanya demi meraih ridha Allah.
Allah Swt. menegaskan:
> “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” — QS. Al-Hajj: 37
Ayat ini menekankan bahwa inti qurban bukan pada fisik hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan pelakunya. Qurban menjadi cermin kualitas iman seseorang: sejauh mana ia rela berkorban demi menjalankan perintah Allah.
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Tidak ada suatu amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan qurban).” — HR. At-Tirmidzi
Hadis ini menunjukkan betapa besar nilai ibadah qurban di sisi Allah. Ia bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi ibadah yang sarat makna spiritual.
Qurban dan Rasa Syukur
Qurban juga merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Harta, kesehatan, keluarga, dan rezeki yang dimiliki manusia sejatinya berasal dari Allah. Maka, menyisihkan sebagian harta untuk berqurban merupakan wujud pengakuan bahwa semua nikmat tersebut adalah titipan-Nya.
Allah Swt. berfirman:
> “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” — QS. Al-Kautsar: 2
Ayat ini menghubungkan antara ibadah kepada Allah dan qurban sebagai bentuk syukur atas nikmat yang melimpah. Orang yang bersyukur tidak hanya mengucapkan “alhamdulillah,” tetapi juga membuktikannya melalui amal nyata.
Melalui qurban, umat Islam diajarkan untuk berbagi dengan sesama, terutama kaum fakir dan dhuafa. Daging qurban yang dibagikan menjadi simbol solidaritas sosial dan kepedulian terhadap orang lain. Dengan demikian, qurban memperkuat hubungan vertikal kepada Allah sekaligus hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Hikmah Sosial dari Ibadah Qurban
Selain bernilai spiritual, qurban memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Di hari raya Iduladha, masyarakat miskin yang jarang menikmati daging dapat merasakan kebahagiaan bersama. Semangat berbagi ini mempererat ukhuwah Islamiyah dan menumbuhkan empati sosial.
Qurban juga mendidik manusia agar tidak terlalu mencintai dunia. Ketika seseorang rela mengeluarkan hartanya untuk qurban, ia sedang belajar bahwa harta bukan tujuan hidup, melainkan sarana ibadah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
> “Barang siapa memiliki kelapangan rezeki namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.” — HR. Ibnu Majah
Hadis ini menunjukkan pentingnya qurban bagi mereka yang mampu. Qurban bukan hanya ritual, tetapi juga bentuk tanggung jawab spiritual dan sosial.
Penutup
Qurban adalah simbol iman, ketakwaan, dan rasa syukur kepada Allah Swt. Melalui qurban, manusia belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, kepedulian sosial, serta ketaatan kepada Sang Pencipta. Nilai terbesar qurban bukan terletak pada banyaknya hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan hati dan ketakwaan yang menyertainya.
Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi materialisme dan individualisme, semangat qurban mengingatkan manusia untuk kembali kepada nilai penghambaan, kepedulian, dan rasa syukur. Dengan demikian, qurban tidak hanya menjadi ibadah tahunan, tetapi juga jalan membentuk pribadi yang beriman, dermawan, dan bertakwa. ( ***)
