Bener Meriah | Barak1.News.com
Beredarnya video yang diduga memperlihatkan seorang siswa menjadi korban penganiayaan oleh kakak kelas di SMA Unggul Binaan mendapat perhatian serius dari generasi muda Bener Meriah. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa kondisi korban cukup serius hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Rifki Hasan Gayo, generasi muda Bener Meriah, menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan penganiayaan tersebut. Menurutnya, apabila peristiwa dalam video benar menunjukkan tindakan kekerasan dan menyebabkan korban harus menjalani perawatan di rumah sakit, maka persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai konflik biasa antarpelajar.
“Jika benar seorang siswa menjadi korban penganiayaan hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, maka ini merupakan persoalan serius yang harus diusut secara menyeluruh. Lingkungan sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman untuk belajar dan bertumbuh, bukan tempat seorang siswa mengalami kekerasan hingga berdampak pada kondisi fisiknya,” ujar Rifki Hasan Gayo.
Rifki meminta pihak sekolah segera melakukan klarifikasi dan pemeriksaan secara objektif terhadap peristiwa tersebut. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan kronologi yang sebenarnya sekaligus memberikan perlindungan kepada siswa yang diduga menjadi korban.
“Pihak sekolah harus menunjukkan keseriusan. Jangan menunggu persoalan semakin besar atau menunggu video menjadi viral baru kemudian mengambil langkah. Ketika seorang siswa sampai harus dirawat di rumah sakit, tentu ini bukan persoalan yang bisa dibiarkan begitu saja. Keselamatan dan kesehatan siswa merupakan tanggung jawab utama yang harus dijamin,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa menjaga nama baik sekolah tidak boleh dilakukan dengan cara menutup-nutupi persoalan.
“Nama baik institusi pendidikan justru akan terjaga ketika setiap persoalan diselesaikan secara terbuka, objektif, dan bertanggung jawab. Jangan sampai kepentingan menjaga citra sekolah justru mengorbankan hak, kesehatan, dan rasa aman seorang siswa,” katanya.
Menurut Rifki, jika hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya penganiayaan, maka pihak yang bertanggung jawab harus mendapatkan tindakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, proses tersebut tetap harus dilakukan secara objektif dan tidak berdasarkan penghakiman di media sosial.
Rifki juga meminta agar korban mendapatkan pendampingan dan perlindungan selama proses penanganan berlangsung, termasuk memastikan korban dapat menjalani pemulihan dengan aman setelah mendapatkan perawatan medis.
“Korban harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai setelah mengalami penganiayaan dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, korban justru merasa takut untuk berbicara atau mendapatkan tekanan untuk diam. Sekolah harus memastikan korban mendapatkan perlindungan, pendampingan, serta ruang yang aman untuk memulihkan diri,” ujarnya.
Ia menilai kejadian tersebut harus menjadi momentum bagi pihak sekolah untuk memperkuat pengawasan serta memastikan seluruh siswa mendapatkan perlakuan yang aman dan bermartabat di lingkungan pendidikan.
“Kita ingin sekolah menjadi tempat yang membentuk generasi unggul, berkarakter, dan menghargai sesama. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan terhadap siswa. Apalagi jika kekerasan tersebut sampai menyebabkan seorang siswa harus mendapatkan perawatan medis,” lanjutnya.
Rifki berharap pihak sekolah dan instansi pendidikan terkait dapat segera memastikan fakta kejadian serta mengambil langkah yang tepat berdasarkan hasil pemeriksaan. Ia juga meminta agar kondisi korban menjadi perhatian selama proses penyelesaian persoalan berlangsung.
“Kita tidak boleh terburu-buru menghakimi siapa pun sebelum fakta dipastikan. Tetapi kita juga tidak boleh diam ketika ada dugaan seorang siswa menjadi korban penganiayaan hingga harus dirawat di rumah sakit. Fakta harus diungkap, korban harus dilindungi, kondisi korban harus menjadi perhatian, dan apabila terbukti terjadi pelanggaran, harus ada tindakan yang tegas dan adil,”tutup Rifki Hasan Gayo.
Rifki Hasan Gayo Generasi Muda Bener Meriah. ( ***)
