Barak-1news.com | Paluta
Sejak didirikan pada 2012 silam, Sekolah Luar Biasa (SLB) satu atap mulai tingkat SD hingga SMP di Desa Sigama Kecamatan Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatra Utara Padang terus berkembang.
Dari keterangan yang berhasil dihimpun barak1news.com dari wakil kepala sekolah Irwandi SPd, Senin (15/8/2022).
Ia mengatakan, sekolah dengan 75 murid terdiri dari tuna grahita sedang, tuna grahita ringan, autis, tuna rungu, tuna netra, bahkan Sampai dwon syndrome telah menghasilkan karya yang bisa menghasilkan uang.
Hasil karya berupa alas kaki hanger, sabun, kit, lampu hias, bunga, makanan dan lain lain.
“Alhamdulillah dalam sepuluh tahun ini kami juga sudah mengirim murid dari sekolah ini keluar daerah, seperti Aceh dan Kalimantan. Hanya saja, kami dan orangtua murid berharap kepada pemerintah daerah maupun pusat agar dapat memfasilitasi sekolah ini dengan armada bus antar jemput siswa. Karena dengan adanya armada tersebut murid murid akan terus aktif dalam mengikuti proses belajar, karena keterbatasan ekonomi akibatnya murid ada jarang masuk karena akses yang sangat jauh,” pungkas Irwandi Spd.

Lebih lanjut ia menerangkan, SLB Padang Lawas Utara memiliki 18 tenaga pengajar mulai dari tingkat SD SMP sampai SLTA, dan setiap 1 orang guru hanya bisa mengajar 4, bahkan 1 guru untuk satu murid.
Terkendala Jarak
Hj Komaria Harahap salah satu orang tua murid saat ditemui media ini mengungkapkan kegembiraannya dengan adanya SLB yang dapat mendidik dan membina anak keterbelakangan fisik dan mental.
Namun, Hj Komaria Harahap orangtua murid yang berasal dari Langga Payung juga mengharapkan Bupati Labuhan Batu Selatan agar mendirikan sekolah serupa untuk memangkas jarak tempuh serta menghemat waktu.
Karena setiap hari ia harus merogoh kocek sebesar Rp 150 ribu untuk biaya mengantar sang anak ke SLB di yang berada di Kabupaten Paluta tersebut.
Hal yang sama juga diutarakan Rosliani Harahap, ia berharap agar pemerintah lebih memperhatikan terkait pengadaan bus sekolah.
“Sebagai orangtua kami sangat membutuhkan transportasi seperti mobil untuk antar jemput siswa karena setiap hari kami harus mengeluarkan uang paling sedikit seratus ribu per hari untuk biaya antar jemput siswa,” ungkapnya. (bakti nst/Mora sakti Siregar)
