Barak-1 News.com | Labusel
Keberangkatan tim kebudayaan Labuhanbatu Selatan (Labusel), tergabung dalam Sanggar Seni Pinang Lestari sangat menyedihkan tanpa kehadiran pejabat berkompeten, pada Minggu (30/10) malam, di halaman SBBK Kotapinang Labuhanbatu Selatan.
Keberangakatan kontingen budaya cukup sederhana, terlihat tanpa ada upacara khusus sebagaimana biasanya. Padahal kontingen budaya tersebut mewakili Labusel dalam event bergengsi Gelar Melayu Serumpun tahun 2022.
Dimana kegiatan, diikuti 4 negara tetangga yaitu Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura dan Thailand serta kontingen dari seluruh Indonesia. Seharusnya ada kebanggaan mengutus mereka sebagai wakil Labusel di kancah bergengsi tersebut.
Tidak Pilih Kasih
Menurut Wan Ades Iskandar Nasution sebagai penggiat budaya Labusel mengatakan, seharusnya pemkab labusel tidak pilih kasih dalam setiap event kegiatan yang diikuti.
Dengan kata lain tidak adanya pengkotak-kotakan, namun dengan peristiwa pemberangkatan penari ke medan untuk sebuah event bergengsi sangat tidak wajar.
“Pemerintah tidak bisa pilih kasih dalam hal kegiatan yang diikuti putra putri Labusel. Lihat dan perhatikan mereka, mereka juga punya hak untuk diperhatikan. Miris melihat keberangkatan mereka tanpa kehadiran pejabat yang berkompeten, minimal kepala OPD, katanya.
Tapi kenyataannya tidak, mereka dengan diantar orangtuanya ditengah kondisi hujan tetap semangat demi citra Labusel di kancah nasional”, ucap Wan Ades.
Lebih lanjut katanya, bahwa kebudayaan tidak bisa dipandang sebelah mata, sebab budaya juga dapat mengangkat citra daerah.
Bagaimana nasib budaya kita di masa mendatang, kalau pemegang kepentingan tidak peduli dengan hal itu. Al hasil anak-anak kità seperti kehilangan induk, unkapnya.
Kita berharap pemkab Labusel kedepan dapat lebih peka terhadap persoalan tersebut, sehingga siapapun orangnya atau timnya yang bersedia mewakili Labusel baik di tingkat propinsi maupun nasional patut diapresiasi, tegasnya. (Ahyar Nasution)
Editor | Mukhlis Nst
