
Barak-1News | Jakarta
Cuaca buruk melanda sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Untuk memastikan keselamatan pelayaran dan aktivitas wisata, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo menutup sementara seluruh layanan kapal wisata.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 06/MP-I/2026 tentang Peringatan Potensi Cuaca Ekstrem. Surat itu ditandatangani Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo dan diunggah oleh sejumlah agen perjalanan wisata setempat
Penutupan layanan berlaku pada 14 hingga 20 Januari 2026 dan mencakup seluruh kapal wisata, termasuk speed boat.
Dalam surat edaran itu dilangsir laman detikTravel, Kamis (15/1), disebutkan bahwa penutupan dapat diperpanjang apabila kondisi cuaca belum membaik, dengan mengacu pada prakiraan cuaca maritim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Tinggi Gelombang 0,80 – 1,20 Meter
Berdasarkan data BMKG yang disampaikan prakirawan Dyah Safitri Maharani, kondisi perairan Labuan Bajo pada 14–15 Januari 2026 tergolong menantang. Tinggi gelombang signifikan mencapai 0,80 hingga 1,20 meter dengan kategori rendah hingga sedang. Arah angin dominan berasal dari Barat dan Barat Laut dengan kecepatan 6–13 knot, serta berpotensi meningkat hingga 23 knot saat angin kencang.
Pada periode 15–17 Januari 2026, kondisi diperkirakan sedikit membaik meski angin masih dapat bertiup hingga 25 knot. Tinggi gelombang signifikan berada pada kisaran 0,40–0,80 meter, dengan jarak pandang 7–10 kilometer dan suhu udara antara 25–28 derajat celsius.
Tragedi KM Putri Sakinah
Penutupan layanan kapal wisata ini dilakukan sekitar tiga pekan setelah insiden tenggelamnya KM Putri Sakinah di Selat Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Dalam peristiwa tersebut menewaskan empat orang, termasuk pelatih sepak bola wanita Valencia CF, Fernando Martin Carreras, yang sedang berlibur bersama keluarga.
Terbalik Dan Tenggelam
KM Putri Sakinah dilaporkan mengalami mati mesin di tengah malam saat cuaca ekstrem. Gelombang laut setinggi sekitar 2–3 meter menghantam kapal yang kehilangan kendali hingga akhirnya terbalik dan tenggelam sekitar 23 mil laut di barat Pelabuhan Marina Labuan Bajo.

Jenazah Fernando dan dua anaknya berhasil ditemukan, sementara satu anak lainnya, Martines Ortuno Enriquejavier, masih dinyatakan hilang.
Dalam surat edaran tersebut, nakhoda kapal wisata diminta memastikan kelaiklautan kapal serta segera berlindung apabila cuaca memburuk. Kapal-kapal wisata juga diminta saling berkoordinasi apabila mengetahui adanya potensi bahaya cuaca di perairan Labuan Bajo.
Selain itu, kapal yang berada di laut diminta menyesuaikan operasional dengan cara berlabuh atau mooring di area yang terlindung dari gelombang tinggi dan arus kuat, serta memastikan mesin dalam kondisi siaga. Nakhoda juga diminta berkoordinasi dengan syahbandar dan Basarnas apabila kondisi cuaca semakin memburuk. (Red)
Editor | Mukhlis Nst
