Diangkat Dari Kisah Nyata – Karya: Salam Siregar, Jum’at 02/10/2026.
Setiap Hari Menyeberangi Sungai Sosa Jika Berangkat Sekolah.
Hijrah adalah cara manusia untuk menjadi lebih baik. Lebih baik ekonominya, pendidikannya, agamanya.
Itulah impian keluarga kami ketika memutuskan pindah dari Batang Toru ke Pasar Ujung, Kecamatan Sosa, di awal tahun 80-an.
Pindah bukan perkara ringan. Di Lubuk Torop, kami hanya lima orang. Ayah kami, Tongku Nauli Siregar, Ibu kami Nuratas Pohan, kakak saya Siti Hawa, abang Jalaluddin, dan saya sendiri, Addus Salam Siregar.
Di Pasar Ujung, keluarga kami bertambah. Lahir adik-adik kami: Alm. Saifuddin Siregar, Nur Komariah, dan Ali Sabban Siregar. Delapan jiwa dalam satu atap.
Secara matematika, belanja semakin banyak. Sandang, pangan, semua harus dipikirkan. Tapi Ayah dan Ibu punya keyakinan yang tak pernah goyah. Sebagai hamba yang taat, mereka percaya tiga hal sudah tertulis untuk manusia: hidup dan mati, rezeki, dan jodoh. Itu semua rahasia Allah SWT. Manusia hanya berencana, Qada dan Qadar milik Allah.
Awalnya, semangat itu menggebu-gebu. Di kampung lama kami, mobil belum masuk. Hasil pertanian harus dipikul berjalan kaki puluhan kilometer untuk sampai ke pasar.
Di Pasar Ujung Batu, semuanya serba laku. Sayuran laku, buah-buahan laku, apalagi ayam dan kambing.
Tahun pertama dan kedua, hasilnya lumayan. Kami meninggalkan sistem tadah hujan dan merasakan sawah dengan irigasi. Ada bendungan baru. Air mengalir. Ayah sangat puas.
Namun, ketika saya menginjak kelas 3 SD, banjir bandang datang. Luar biasa besarnya. Bendungan yang baru dua tahun beroperasi itu hancur, tak bisa berfungsi lagi. Sampai hari ini, bendungan itu tak ada artinya. Masyarakat kembali menanam padi hanya mengharapkan air hujan.
Ekonomi keluarga semakin sulit hari demi hari. Tapi Ayah dan Ibunda tak pernah putus asa. Pesan mereka hanya satu: “Tetaplah belajar, tetaplah sholat, dan berdoalah. Kelak nasib akan berubah.”
Karena sawah tak lagi bisa diandalkan, orang tua kami mencoba peruntungan baru: beternak dan berkebun di pinggiran Sungai Batang Sosa. Kami pun pindah ke seberang sungai.
Sejak itulah ujian sesungguhnya dimulai.
Setiap hari, saya bersama kakak, abang, dan adik-adik harus menyeberangi derasnya arus Sungai Sosa untuk berangkat sekolah.
Jika banjir datang, kami tidak bisa sekolah. Jika pun memaksakan menyeberang, kami pasti terlambat dan mendapat sanksi dari guru. Mulai dari menghormat bendera di lapangan, disuruh menyapu halaman, bahkan tak jarang mendapat tamparan.
Yang lebih menyakitkan adalah cemoohan kawan-kawan. Kami dibully. Diejek karena baju basah, karena datang terlambat, karena miskin. Acap kali ejekan itu berujung perkelahian. Kami berkelahi bukan karena nakal, tapi karena sudah tak tahan.
Bersambung Episode Ke-4. Masa Sulit Membuat Kami Harus Masuk Transmigrasi Ke Aliaga Ujung Batu IV.
