DR. Hasan Basri, MA
Banda Aceh | Barak1News.com
Wajah pemimpin di setiap zaman berbeda-beda, ada pemimpin yang baik, ada yang setengah baik, dan ada pula yang tidak baik. Ibarat adagium, “setiap zaman ada pemimpinnya, dan setiap pemimpin ada zamannya.”
Ketika kekuasaan menjadi ujian, jabatan bukan lagi sekadar kehormatan, tetapi amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Ada zaman ketika orang mengejar ilmu agar menjadi bijaksana. Ada pula zaman ketika orang mengejar kekuasaan agar menjadi terkenal. Bahkan, ada masa ketika jabatan tidak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan sebagai jalan menuju kemewahan, popularitas, dan pengaruh.
Lalu, bagaimana Islam menggambarkan pemimpin pada zaman yang penuh fitnah?
Pertanyaan ini penting. Namun, kita perlu berhati-hati: Al-Qur’an dan hadis tidak memberikan daftar sederhana yang dapat dipakai untuk memastikan bahwa seseorang tertentu adalah “pemimpin akhir zaman”. Yang diberikan adalah prinsip-prinsip moral tentang kepemimpinan, tanda-tanda kerusakan amanah, dan peringatan tentang keadaan manusia ketika nilai agama semakin terpinggirkan.
Karena itu, membicarakan “pemimpin akhir zaman” sebaiknya bukan untuk menunjuk siapa orangnya, melainkan untuk bercermin: pemimpin seperti apa yang sedang kita lahirkan?
1. Jabatan Diperebutkan, Padahal Amanah
Salah satu persoalan kepemimpinan adalah ketika jabatan mulai menjadi sesuatu yang diperebutkan demi kepentingan pribadi.
Rasulullah pernah memberikan peringatan kepada Abdurrahman bin Samurah:
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan berarti seseorang sama sekali tidak boleh menerima tanggung jawab publik. Yang diperingatkan adalah ambisi terhadap kekuasaan sebagai tujuan pribadi.
Dalam perspektif Islam, semakin tinggi jabatan, semakin besar pula pertanggungjawabannya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. al-Nisa’: 58)
Maka, salah satu ciri kepemimpinan yang mengalami kerusakan adalah ketika jabatan lebih dicintai daripada amanahnya.
2. Kekuasaan Menjadi Tujuan, Bukan Sarana Pengabdian
Pemimpin yang sehat memandang kekuasaan sebagai sarana untuk melayani masyarakat.
Sebaliknya, ketika kekuasaan menjadi tujuan, berbagai cara dapat dianggap halal selama menghasilkan posisi.
Di sinilah politik kehilangan dimensi etiknya. Al-Qur’an mengingatkan tentang manusia yang mengejar kehidupan dunia secara berlebihan:
“Bahkan kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS. al-A‘la: 16–17)
Ayat ini memang tidak secara khusus berbicara tentang pejabat atau politikus. Tetapi prinsipnya sangat relevan: ketika orientasi dunia mengalahkan kesadaran akhirat, kekuasaan mudah berubah menjadi alat kepentingan diri.
3. Banyak Bicara, Sedikit Menepati Janji
Salah satu penyakit kepemimpinan adalah ketika kata-kata menjadi lebih besar daripada tindakan.
Janji dibuat dengan mudah. Slogan terdengar indah. Rakyat diberi harapan. Tetapi setelah kekuasaan diperoleh, janji perlahan dilupakan.
Allah mengingatkan:
“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. al-Saff: 3)
Ayat ini memberikan pelajaran penting: integritas seorang pemimpin bukan diukur dari banyaknya janji, tetapi dari kesesuaian antara ucapan dan perbuatan.
Pemimpin boleh mempunyai keterbatasan. Program bisa gagal. Kebijakan bisa mengalami kekurangan. Tetapi kejujuran untuk mengakui kekurangan jauh lebih bermartabat daripada terus membangun citra kesempurnaan.
4. Orang Tidak Cakap Diberi Kekuasaan
Rasulullah memberikan peringatan yang sangat terkenal:
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.”
(HR. Bukhari)
Hadis ini berbicara tentang pentingnya kompetensi dan kelayakan dalam mengelola urusan publik.
Dalam kehidupan modern, prinsip tersebut dapat diterjemahkan secara luas: jabatan membutuhkan kemampuan, integritas, pengalaman, tanggung jawab, dan kesediaan belajar.
Bukan sekadar popularitas.
Bukan sekadar kekayaan.
Bukan sekadar kemampuan berbicara.
Dan bukan pula sekadar kedekatan dengan pusat kekuasaan.
Sebab masyarakat tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai tampil, tetapi pemimpin yang mampu bekerja dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya.
5. Dekat dengan Pujian, Jauh dari Kritik
Ada pemimpin yang senang mendengar pujian tetapi tidak nyaman mendengar kritik.
Di sekelilingnya kemudian hanya tersisa orang-orang yang mengatakan, “Benar, Pak.”
Padahal, pemimpin justru membutuhkan orang yang berani mengatakan, “Ada yang keliru.”
Dalam tradisi Islam, nasihat merupakan bagian penting dari kehidupan sosial.
Pemimpin yang tidak mampu menerima kritik berpotensi membangun lingkaran kekuasaan yang tertutup. Ketika informasi yang sampai kepada pemimpin hanya informasi yang menyenangkan, keputusan dapat semakin jauh dari kenyataan masyarakat.
Karena itu, kritik yang jujur sebenarnya dapat menjadi sahabat kekuasaan.
Yang berbahaya bukan kritik.
Yang lebih berbahaya adalah ketika semua orang takut mengatakan kebenaran.
6. Rakyat Dipandang sebagai Angka
Dalam politik modern, angka memang penting: jumlah suara, tingkat kepuasan, pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, dan berbagai indikator lainnya.
Tetapi manusia tidak boleh direduksi menjadi angka.
Di balik setiap statistik terdapat manusia yang memiliki keluarga, harapan, penderitaan, dan masa depan.
Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. al-Nahl: 90)
Pemimpin yang berorientasi pada kemaslahatan tidak hanya bertanya, “Berapa banyak yang mendukung saya?”
Ia juga bertanya:
“Siapa yang belum mendapatkan keadilan?”
7. Kekayaan dan Fasilitas Menjadi Ukuran Keberhasilan
Kekuasaan dapat menjadi jebakan ketika ukuran keberhasilan seorang pemimpin berubah menjadi kemewahan pribadi.
Rumah semakin besar.
Mobil semakin mewah.
Lingkaran sosial semakin eksklusif.
Sementara rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Islam tidak mengharamkan seseorang menjadi kaya. Yang menjadi persoalan adalah ketika kekayaan diperoleh dengan cara yang tidak benar atau ketika kekuasaan digunakan untuk memperkaya diri.
Al-Qur’an memperingatkan:
“Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.”
(QS. al-Baqarah: 188)
Kekuasaan yang sehat seharusnya membuat seorang pemimpin semakin takut menyalahgunakan fasilitas, bukan semakin merasa berhak menikmati semuanya.
8. Agama Dijadikan Sekadar Simbol
Ada perbedaan antara religiusitas simbolik dan religiusitas etik.
Simbol agama dapat terlihat dalam pakaian, ucapan, slogan, atau berbagai kegiatan keagamaan. Semua itu memiliki tempatnya.
Tetapi agama tidak berhenti pada simbol.
Shalat mengajarkan disiplin dan ketundukan kepada Allah.
Puasa mengajarkan pengendalian diri.
Zakat mengajarkan kepedulian sosial.
Haji mengajarkan persamaan manusia.
Dan seluruh ajaran tersebut semestinya bermuara pada akhlak.
Rasulullah bersabda:
«“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”»
(HR. Ahmad)
Karena itu, ukuran keberagamaan seorang pemimpin tidak cukup dilihat dari seberapa sering ia berbicara tentang agama, tetapi juga dari seberapa jauh kekuasaannya menghasilkan keadilan dan kemaslahatan.
9. Ketika Kemunafikan Politik Menjadi Budaya
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan politik adalah ketika manusia terbiasa mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sebenarnya diyakininya.
Di depan mengatakan A.
Di belakang melakukan B.
Di hadapan rakyat berbicara tentang kesederhanaan.
Tetapi dalam kehidupan pribadi mengejar kemewahan.
Di podium berbicara tentang kepentingan rakyat.
Tetapi dalam praktik lebih mengutamakan kelompok sendiri.
Al-Qur’an mengecam keadaan ketika perkataan tidak sejalan dengan perbuatan:
“Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. al-Saff: 2)
Karena itu, salah satu ukuran moral kepemimpinan adalah konsistensi. Bukan kesempurnaan.
Tetapi kesediaan untuk terus memperbaiki diri dan mempertanggungjawabkan amanah.
10. Pemimpin yang Takut kepada Allah
Di tengah berbagai pembicaraan tentang pemimpin akhir zaman, mungkin inilah ciri yang paling penting: takut kepada Allah ketika tidak ada manusia yang melihatnya.
Sebab kamera dapat dimatikan.
Media dapat berhenti memberitakan.
Pengawal dapat meninggalkan ruangan.
Pendukung dapat pulang.
Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan manusia sendirian.
Al-Qur’an berfirman:
“Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
(QS. al-Nisa’: 1)
Kesadaran semacam inilah yang melahirkan kepemimpinan yang jujur.
Sebab seorang pemimpin yang benar-benar merasa diawasi Allah tidak akan mudah menggunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya sendiri.
Penutup
Sebab kerusakan kepemimpinan tidak lahir sendirian. Ia dapat tumbuh dari budaya masyarakat yang terlalu mudah memuja popularitas, mengabaikan integritas, membenarkan politik uang, memaafkan korupsi, dan menganggap jabatan sebagai simbol keberhasilan pribadi.
Pada akhirnya, setiap pemimpin akan turun dari kursinya. Ada yang meninggalkan nama. Ada yang meninggalkan karya. Ada yang meninggalkan kontroversi, dan ada pula yang meninggalkan doa dari orang-orang yang pernah merasakan keadilannya.
Rasulullah mengingatkan:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini membuat pembicaraan tentang pemimpin akhir zaman menjadi lebih dekat dengan kehidupan kita.
Sebab kepemimpinan ternyata bukan hanya milik presiden, gubernur, bupati, rektor, kepala sekolah, atau pejabat negara. Ayah adalah pemimpin keluarganya.
Ibu adalah pemimpin dalam rumahnya.
Guru memimpin murid-muridnya. Dosen memimpin proses intelektual mahasiswanya.
Dan setiap manusia, setidaknya, adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Maka, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Siapa pemimpin akhir zaman?”
Melainkan:
“Apakah kita sedang menjadi manusia yang pantas dipercaya ketika diberi amanah?”
Sebab tanda-tanda zaman boleh kita renungkan. Tetapi perbaikan akhlak dan amanah harus dimulai dari diri sendiri.
Jabatan mungkin hanya berlangsung beberapa tahun.
Popularitas mungkin hanya bertahan beberapa hari.
Tetapi amanah akan dibawa sampai menghadap Allah.
