Karya: Salam Siregar, Senin 05/10/2026.
Episode 4: Masa Sulit Membuat Kami Harus Masuk Transmigrasi Ke Aliaga Ujung Batu IV.
Seringkali karena keadaan ekonomi, aku harus ikut berjualan sayur setiap sore ke pasar, agar kebutuhan keluarga bisa tercukupi.
Terkadang kami harus mencari ikan bersama-sama untuk dijual ke pasar, agar dapat membeli beras dan keperluan rumah tangga lainnya. Terkadang sebagai seorang anak, aku sangat menginginkan ikan hasil tangkapan itu untuk dijadikan lauk makan kami. Namun hal itu jarang terjadi, sebab ikan itu harus dibawa dulu ke pasar untuk dijual.
“Ikan yang bagus dan besar kita asingkan ya, Nak. Itu nanti untuk kita jual agar dapat membeli beras,”kata Ibu saat itu kepada kami anak-anaknya.
Selain itu, hampir tiap sore kami membawakan sayur untuk dijual, dengan harga yang sangat tak pantas. Namun hal itu harus kami lakukan agar dapat membawa beras dan keperluan dapur lainnya ke rumah.
Walaupun dibully oleh kawan-kawan sekelas dan diperlakukan dengan berbagai cara agar kami terhina, ternyata itu tak menyurutkan niat dan tekad kami untuk bisa bersaing, baik di kelas maupun di luar kelas.
Pada akhir tahun 1984, adik perempuanku lahir di tengah-tengah masa sulit yang dialami keluarga kami. Namun semua itu sesuai dengan keyakinan orang beriman, bahwa masing-masing rezeki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Kelahiran adik kami yang terakhir ini sangat menyayat hati. Di tengah kesulitan ekonomi, si kecil Siti Aminah Siregar terlihat kurang gizi, badannya sangat lemas bagaikan kurang vitamin. Mungkin kalau di zaman sekarang, ia sangat perlu penanggulangan stunting. Tapi apa boleh buat, orang tua hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa atas apapun yang akan terjadi.
Di tahun tersebut, pemerintah membuka pendaftaran warga lokal untuk menjadi warga Transmigrasi tahun 1984, warga masuk tahap II untuk Trans Aliaga Ujung Batu IV dan V. Sementara untuk tahap satu telah masuk pada tahun 1982 untuk Unit I, II, dan III.
Pada saat itu kami sangat bangga, karena mendapat jatah dari pemerintah, mulai dari bahan makanan seperti beras, minyak goreng, minyak lampu, dan alat-alat pertanian lengkap serta bibit-bibit tanaman.
Kebahagiaan itu sangat kami syukuri. Hijrah yang ketiga ini sepertinya mendapatkan berkah. Di tempat sebelumnya kami sering mendapatkan hinaan dan dibully kawan-kawan. Namun di Transmigrasi, derajat kami sama. Sama-sama pendatang dan sama-sama tak punya saudara. Saudara kita adalah tetangga kita.
Bersambung ke Bagian 5:Tahun Pertama Hidup Di Transmigrasi.
